Banjarnegara Ahad, 31 Agustus 2025 – Istana Yatim At-Taslim, Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara kembali menggelar kajian Ahad pagi bersama jamaah dan masyarakat sekitar. Kajian kali ini mengangkat tema “Pentingnya Membersihkan Hati”, yang disampaikan dengan penuh makna oleh Ustadzah Faizah Permata Ayu, S. Th. I.
Dalam penyampaiannya, ustadzah mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu‘arā’ ayat 88–89:
“(yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Beliau menekankan bahwa kebersihan hati merupakan modal utama dalam kehidupan seorang mukmin. Harta, kedudukan, bahkan anak keturunan tidak akan menjadi penolong di hadapan Allah SWT, kecuali jika seseorang membawa hati yang suci dan ikhlas.
Setidaknya ada tiga poin penting yang disampaikan dalam kajian ini:
Hati sebagai modal kembali kepada Allah
Hati yang bersih adalah bekal sejati saat manusia kembali menghadap Allah SWT. Tanpa hati yang ikhlas dan penuh ketundukan, amal sebesar apa pun bisa menjadi sia-sia.Hati sebagai pusat pandangan Allah
Allah tidak memandang rupa dan fisik manusia, melainkan isi hati. Jika hati baik, maka perilaku, ucapan, dan amal seseorang juga akan baik. Sebaliknya, hati yang kotor akan memengaruhi seluruh aspek kehidupan.Hati sebagai pemimpin jiwa
Hati berperan sebagai pengendali dan pengarah seluruh anggota tubuh. Bila hati bersih, seluruh perilaku akan terarah kepada kebaikan. Karena itu, menjaga hati dari penyakit seperti iri, dengki, sombong, dan riya menjadi kewajiban setiap muslim.
Selain itu, ustadzah juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya menjaga dzikir, memperbanyak istighfar, serta mempererat silaturahmi sebagai langkah nyata dalam membersihkan hati. Dengan demikian, hati akan tetap lembut, tenang, dan jauh dari kotoran yang bisa menghalangi cahaya iman.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta mengangkat isu yang sedang ramai diperbincangkan di masyarakat. Ia menanyakan bagaimana sikap seorang muslim dalam menjaga kebersihan hati ketika mendengar pemberitaan tentang seorang pemimpin yang mengucapkan kata-kata kurang pantas dan bahkan menyinggung rakyat, hingga menimbulkan rasa tersinggung di tengah masyarakat.
“Berbahagialah orang yang bisa memberi tanpa mengingat-ingat dan orang yang mengambil tanpa melupakan (yang memberinya).”
Menanggapi pertanyaan tersebut, ustadzah dengan bijak menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya tidak mudah larut dalam emosi maupun kebencian. Kebersihan hati justru diuji ketika menghadapi ucapan atau peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan.
Beliau menambahkan, “Kita cukup mendoakan negeri ini agar selalu dalam lindungan Allah SWT. Doakan para pemimpin kita supaya diberikan hidayah, kebijaksanaan, dan kelembutan hati dalam memimpin rakyatnya. Jangan sampai hati kita ikut keruh hanya karena ucapan yang menyakitkan. Sebaliknya, kita jadikan peristiwa ini sebagai pengingat agar kita senantiasa menjaga lisan dan memperbaiki diri.”
Ustadzah juga menekankan bahwa doa yang dipanjatkan dengan hati ikhlas memiliki kekuatan besar untuk membawa kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi bangsa. Dengan doa, istighfar, dan kesabaran, seorang muslim bisa tetap menjaga hatinya bersih dari dendam, benci, dan amarah yang berlebihan.
Kajian yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama agar Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada jamaah untuk memperbaiki hati dan memperbanyak amal shalih. Dengan hati yang bersih (qalbun salim), seorang mukmin tidak hanya membawa bekal terbaik untuk kehidupan akhirat, tetapi juga mampu memberi manfaat dan ketenangan bagi lingkungannya.
Kami Yayasan Salam Abadi Indonesia (YASIN) mengucapkan ribuan terima kasih kepada para donatur, tamu undangan, lansia binaan yang telah hadir dan juga berpartisipasi dalam acara ini. Semoga rezekinya semakin dilancarkan oleh Allah SWT, dan selalu diberikan kesehatan.


