Kajian Ahad pagi kembali dilaksanakan pada 8 Maret 2026 dalam rangkaian kegiatan “BERLIAN RAMADHAN 1447H (Berbagi Kemuliaan di Bulan Ramadhan 1447H)” yang diselenggarakan oleh Yayasan Salam Abadi Indonesia (YASIN). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Arif Hidayat, S.Pd.I sebagai pemateri yang menyampaikan tausiyah tentang keutamaan i’tikaf di bulan Ramadhan.
Dalam kajiannya, beliau menjelaskan bahwa secara bahasa i’tikaf berarti berdiam diri di suatu tempat. Secara istilah, i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini memiliki hukum sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
“Berbahagialah orang yang bisa memberi tanpa mengingat-ingat dan orang yang mengambil tanpa melupakan (yang memberinya).”
Rasulullah SAW senantiasa melaksanakan i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah dan upaya meraih keutamaan malam Lailatul Qadar. Meskipun i’tikaf dapat dilakukan di luar bulan Ramadhan, pelaksanaannya di bulan suci, khususnya di penghujung Ramadhan, memiliki keutamaan yang lebih besar.
Ustadz Arif juga menjelaskan bahwa i’tikaf terbagi menjadi dua jenis. Pertama, i’tikaf nadzar, yaitu i’tikaf yang dilakukan karena adanya janji atau nazar, sehingga menjadi wajib ditunaikan. Kedua, i’tikaf sunnah, yaitu i’tikaf yang dilakukan secara sukarela, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam pelaksanaannya, melafalkan niat termasuk sunnah, sementara inti i’tikaf adalah menghadirkan niat dan berdiam diri di dalam masjid.
Lihat Cerita Terbaru
Adapun tata cara i’tikaf cukup sederhana, yaitu dengan niat dan menetap di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah. Selama i’tikaf, seorang muslim dianjurkan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat agar tujuan mendekatkan diri kepada Allah dapat tercapai secara maksimal.
Beliau juga mengingatkan beberapa hal yang dapat membatalkan i’tikaf, di antaranya keluar dari masjid tanpa keperluan yang mendesak, serta kondisi yang menghalangi ibadah seperti haid dan nifas. Oleh karena itu, i’tikaf menuntut kesungguhan, kedisiplinan, dan kesiapan diri dalam menjaga konsistensi ibadah.
Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk memanfaatkan momentum Ramadhan, khususnya sepuluh malam terakhir, dengan menghidupkan masjid melalui i’tikaf. Ibadah ini menjadi sarana untuk membersihkan hati, mendekatkan diri kepada Allah, serta meraih keberkahan dan ampunan di bulan yang penuh kemuliaan.


